Tak Mampu Derma Pada Sekolah, Murid Tahan Malu 3 Hari Didenda Duduk Atas Lantai

Di Malaysia, istilah sumbangan Persatuan Ibu Bapa & Guru (PIBG) pastinya sudah cukup sinonim di kalangan masyarakat kita. Derma yang disalurkan oleh penjaga murid bakal digunakan untuk membiayai pembiayaan sekolah. Di negara Indonesia pula, ia dipanggil sebagai Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Walau apa jua istilah yang disebut, kita sedia maklum bahawa sumbangan ini adalah bersifat seikhlas hati tanpa sebarang paksaan.

@kumparan Seorang murid laki-laki di SD Swasta Abdi Sukma di Kota Medan, berinisial M (10), bernasib malang, harus duduk di lantai selama 3 hari saat proses belajar-mengajar. Anak kelas 4 itu dihukum oleh guru wali kelasnya yang berinisial H, lantaran menunggak bayaran sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) selama 3 bulan yakni Oktober, November, dan Desember 2024. Total besaran SPP-nya Rp 180 ribu. Kamelia, ibu korban, bercerita anaknya itu dihukum sejak hari pertama sekolah yakni Senin (6/1). Namun, ia baru sadar pada Rabu (8/1) saat anaknya tidak mau berangkat ke sekolah. Rabu (8/1), Kamelia pun menyusul anaknya dan mendapati anaknya itu duduk di lantai. Saat itu, kondisi anaknya berbeda dari teman-teman lainnya yang duduk di atas kursi. Akhirnya wali kelas dan Kamelia pun cekcok. Kamelia pun merekam momen itu. Atas insiden ini, Kamelia pun mengaku sangat kecewa dengan pihak sekolah. Sebab, anaknya sempat menjadi trauma tidak mau sekolah. Kepsek SD Abdi Sukma, Juli Sari, memberi klarifikasi. Kata dia, insiden tersebut terjadi lantaran kesalahan dalam komunikasi. 📸: Dok. Istimewa. Follow WhatsApp Channel kumparan untuk dapat Informasi terpercaya dikirim langsung ke WhatsApp kamu. Ketik kum.pr/WAchannel di browser kamu sekarang, agar bisa share informasi tanpa ragu.⁠ #newsupdate #update #news #vidol #siswa #guru #orangtua #SPP #bayarSPP #dihukum #siswaSD #info #beritaterkini #berita #infoterkini #bicarafaktalewatberita #kumparan ♬ original sound – kumparan

Duduk di lantai seperti pengemis…Di situ, tangisan saya pecah…Sampai hati gurunya

Namun baru-baru ini, tindakan seorang pendidik yang mendenda muridnya ekoran ketidakmampuan menghulurkan sumbangan SPP telah menerima kecaman ramai. Ibu kepada murid berkenaan iaitu Puan Kamelia kemudiannya nekad datang ke sekolah untuk bersemuka dengan guru kelas terbabit.

Dia nak pergi sekolah nangis…Anak macam ni kena tanggung malu

Selaku ibu, Puan Kamelia tidak dapat menahan kesedihan tatkala melihat Mahesa yang baru berusia 9 tahun didenda bersila di atas lantai kelas kerana sudah 3 bulan tidak menyumbang derma kepada sekolah. Murid tersebut sempat mengadu merasa malu dan takut untuk sekolah lantaran masalah tersebut. Rupanya sudah 3 hari dia tidak dibenarkan duduk di atas kerusi sewaktu pembelajaran berlangsung.

- IKLAN -

Saya cakap dengan anak “Sabar ya Nak, Mama belum ada duit”

Setelah ketegangan itu berlaku, Puan Kamelia segera dibawa berjumpa dengan Kepala Guru (Guru Besar). Kepala Guru berkata pihaknya juga tidak tahu menahu tentang tindakan guru kelas yang mewujudkan denda sebegitu kepada murid. Difahamkan, Mahesa bukanlah datang daripada latar belakang keluarga yang senang. Ibu ayahnya hanya bekerja sebagai buruh biasa dengan pendapatan yang tidak seberapa. Katanya, sumbangan yang harus dibayar adalah berjumlah Rp60,000 (sekitar RM16.00+).

 

 

@topik_sumut MIRIS tak mampu bayar SPP, siswa di Kota Medan duduk di lantai. “Tanggal 6 Januari 2025 lalu, anak saya masuk sekolah. Tapi saya tidak tau kalau anak saya didudukkan di lantai kelas. Pada tanggal 7 Januari 2025, saya sudah izin kepada wali kelas, bahwa saya minta waktu sampai hari Rabu tanggal 8 Januari 2025 untuk membayar SPP,” ujar orangtua siswa. @bobbynst @prabowo @gerindra #topiksumut #viral #sumut #sumaterautara #kotamedan #murid #spp #bobbynasution #menteripendidikan #indonesia #nasional #fyp ♬ suara asli – Topik Sumut

KREDIT : TikTok topiK_sumut, Instagram silihasahsilihasihsilihasuh & Portal VIVA